Solution for Nokia E7 Not Charging via USB Problem

Update 2012/09/20: Since I wrote this, I realized that my tips below only work randomly and not reliable enough to be labelled as solution. Maybe it was random luck that made it work. Sorry for that. I was about to delete this post, but there have been few suggestions by the reader in the comments that may help instead.

————-

My Nokia E7 simply didn’t want to charge via USB. From Google I know that if the phone is completely dead it may take a while (some say up to 15 minutes) to recognize the charging, but in this case, my phone was not dead. I still have at least one bar of battery, I simply want to charge it, I plugged in the USB cable in the usual port in my computer, and nothing happened.

If that’s the case with your E7, then maybe these tricks below help.

Turn off the phone. Turn off the phone while keeping the USB cable connected. After few seconds, your phone may beep and start charging. The light on the phone’s USB port should blink five times, and the phone would start up (i.e. showing the white splash screen. It’s not the full blown start up but rather start up to “dead” mode just to display that charging is in progress), and you’ll see the light on the phone’s USB port is lit continuously.

If charging doesn’t start this way, disconnect the USB cable, wait for few seconds, and reconnect it. It often fixed the problem for me.

Once charging has commenced in “dead” mode, you may try to start the phone. I found that in most cases the phone would continue charging in “running” mode if you start it this way.

Change to another USB port. Recently, the above trick no longer works for me. If I plug the USB cable in the same USB port in my computer that normally works (while the phone is dead), the light blinks five times, then the phone boots (showing the white screen), but then it stops, and the phone’s USB light indicator is off. The battery indication is shown, but it’s not moving (i.e. it doesn’t show that charging is happening).

When this happened, I found that moving the cable to different USB port in my computer works.

Hope these help.

19 Comments

Filed under Stuff

Usulan Nama Gedung Baru DPR Indonesia

Rancangan Gedung DPR RI (gambar: kompas.com/dpr.go.id)

Menurut berita di Kompas online kemarin, katanya Gedung Baru DPR Tak Mungkin Dibatalkan. Dari pada pusing-pusing mencoba menggoyang keteguhan para anggota dewan, mending kita sumbang saran buat nama gedung baru tersebut aja yuk?

Ini saya mulai dengan beberapa usulan nama:

1. Gedung Penderitaan Rakyat: sebuah nama yang cocok, karena ditengah kehidupan rakyat yang semakin susah para anggota dewan masih tega merampas lebih dari 1 Trilyun uang rakyat untuk gedung nan mewah ini.

2. Wisma Transit: karena dipergunakan para anggota dewan untuk transit sebelum pelesir ke luar negeri bersama keluarga.

3. The Missing Link Buildingthe Missing Link merupakan spesies yang dicari Darwin untuk melengkapi teori evolusinya, adalah species yang menjembatani antara bangsa kera dengan manusia. Ciri-cirinya, mungkin, adalah mempunyai fisik seperti manusia, namun mempunyai intelejensi, daya nalar, apalagi budi pekerti yang rendah. Mungkin nantinya spesies ini bisa ditemukan dengan mudah di gedung baru DPR.

4. WC Umum: nama ini bukan ide saya tapi dilontarkan sebagai aksi protes seniman kepada DPR. Nama yang cukup sesuai, karena bakal banyak aroma tidak sedap dari gedung ini.

5. Kantor Pusat NATO: dewan itu kan fungsinya utamanya legislatif, jadi tugas utamanya kan mengesahkan UU. UU adalah pilar utama kehidupan bangsa kita! Tapi coba lihat statistik kerja mereka setiap periode, disamping penuh dengan kegagalan dalam menuntaskan target pengesahan UU, juga berapa dari UU tersebut yang merupakan hasil SKS (sistem kebut seminggu), sekedar untuk mengejar target kuantitas ketika periodenya hampir habis? Bagaimana kualitasnya kalau dikerjain begitu? Juga, ingat tentang pasal yang hilang tentang tembakau? Semua menunjukkan ketidakbecusan lembaga ini dalam mengerjakan tugas utamanya. Tapi giliran mengkritik lembaga yang lain, duile doi suaranya kenceng banget, kayak kagak ada salahnya. No action, talk only. Tong kosong memang nyaring bunyinya. Talk talk talk.. kayak burung beo.

6. The Bunker: seperti bunkernya Saddam, gedung ini akan dilapisi tembok dan kaca tebal dan fasilitas security untuk membentengi isinya dari rakyat dan aspirasi dan suara-suaranya yang sangat mengganggu itu.

7. The Salon: para anggota yang waktu kampanye berjanji-janji untuk membela rakyat, begitu masuk gedung ini dijamin akan lupa akan janji-janji tersebut dan tidak akan peduli pada sekitarnya. Oleh karena itu, gedung ini mirip seperti salon yang mengubah muka anggota dewan menjadi muka gedek (alias tebel muka).

8. Gedung Perjuangan Rakyat (yang Gagal): sejarah bangsa kita penuh dengan cerita heroisme dan keberhasilan para pahlawan pembela negara. Agar fair, bagusnya memang ini diimbangi dengan cerita kegagalan kita, dan gedung ini cocok untuk melambangkan kegagalan perjuangan rakyat untuk melawan kezaliman para wakilnya sendiri.

9. Gedung Eka Indra: karena orang-orang di dalamnya sudah tidak bisa melihat, mendengar, membaui, dan merasakan aspirasi masyarakat. Namun satu indra mereka masih berfungsi dengan sangat baik, yaitu lidah/mulut, yang diperlukan untuk bersilat lidah dan mencaci maki pemerintah, lembaga yang lain, atau bahkan antar mereka sendiri.

10. Wisma Nurdin Halid: ya! Kapan saja dibutuhkan, para anggota dewan siap untuk menerima kedatangan Nurdin Halid dan menampung curhatnya dengan penuh pengertian dan simpati yang mendalam.

Ada yang mau mengusulkan tambahan nama lain?

(Repost dari tulisan saya di http://politik.kompasiana.com/2011/05/03/10-usulan-nama-untuk-gedung-baru-dpr/)

Leave a comment

Filed under DPR

Fixing External Monitor Resolution/Mode in Ubuntu

I have an LG 22″ display capable of running 1920×1080 resolution. If I plug the monitor before booting Ubuntu 10.04, all will go well, the monitor brand is shown properly in Monitor Preferences dialog and I can use the monitor in its highest resolution.

The problem is if I attached it after Ubuntu is started, Monitor Preferences will show it as “Unknown” monitor, and I will only get much lower resolution. And restarting X (with Ctrl-Alt-Backspace), or running “xrandr -q” don’t help, somehow the bad resolution stucks. The only way to fix this is to reboot the whole system, which is annoying.

If that sounds like the problem you have, this post may help you.

Step 1.

Find the so called X mode line for your desired resolution/mode. The best way is to look it in /var/log/Xorg.0.log file when the system is booting with the correct resolution. The whole line will look something like:

(II) intel(0): Modeline "1920x1080"x0.0  148.50  1920 2008 2052 2200  1080 1084 1089 1125 +hsync -vsync (67.5 kHz)

but the needed part is:

"1920x1080"x0.0  148.50  1920 2008 2052 2200  1080 1084 1089 1125 +hsync -vsync

If your system can’t boot with the desired resolution, you will have to find the mode line for your resolution elsewhere, or use mode line calculators for this. You can use gtf or cvt tool:

~$ gtf 1920 1080 60
# 1920x1080 @ 60.00 Hz (GTF) hsync: 67.08 kHz; pclk: 172.80 MHz  Modeline "1920x1080_60.00"  172.80  1920 2040 2248 2576  1080 1081 1084 1118  -HSync +Vsync

$ cvt 1920 1080 60
# 1920x1080 59.96 Hz (CVT 2.07M9) hsync: 67.16 kHz; pclk: 173.00 MHz
Modeline "1920x1080_60.00"  173.00  1920 2048 2248 2576  1080 1083 1088 1120 -hsync +vsync

In my experience, gtf or cvt may not get the correct numbers for you (in my case, the display is shifted up by few pixels), YMMV.

 

Step 2.

Add new mode with xrandr:

$ xrandr --newmode "1920x1080_60.00"  148.50  1920 2008 2052 2200  1080 1084 1089 1125 +hsync -vsync

 

Step 3.

Register the mode with you monitor:

$ xrandr --addmode VGA1 "1920x1080_60.00"

Replace VGA1 with the identifier for your monitor (just run xrandr without any argument to view detected monitors).

The last argument of –-addmode is the mode name, it must match the mode name added with –newmode command previously. Also, cAPiTalizAtion matters.

 

Step 4.

Now the mode is ready to be used:

$ xrandr --output VGA1 --mode "1920x1080_60.00"


I’m not expert on this, I only got this after hours of searching, but hopefully this helps. Good luck!

 

 

16 Comments

Filed under Uncategorized

FIFA Please Sort Out Indonesian Football

Nurdin Halid Yes I Can

Nurdin Halid: Yes I Can

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Installing Mac OS X Snow Leopard 10.6.6 on VirtualBox

First of all, I’m running VirtualBox 4.0.4 on Ubuntu Linux 10.04 on Core2 Duo laptop. If you’re running an AMD machine, the installation here may not work for you because the SL distro is marked as for Intel only.

For the steps, please refer to “Install OS X Snow Leopard in VirtualBox..” guide. I will only show the difference from that guide here.

Step 1. You will also need “Snow Leopard 10.6.6 SSE2/SSE3 Intel Only by Hazard” DVD ISO. Don’t ask me where to get it from!

Step 3. Set Operating System Version to “Mac OS X Server (64 bit)

Step 4. I give my VM 1024 MB only.

Step 5. I set my hard disk maximum size to 40 GB (20 GB would be too small for iPhone development)

Step 6. Additional steps:

  • System -> Processor:  I assign two virtual processors.

Step 7.  Storage:

  • add SATA controller and move the virtual hard disk from the IDE controller to the SATA controller
  • check the “use host I/O cache” tickbox for the SATA controller.
  • mount “SL_10.6.6i_by_Hazard.iso” to the IDE CDROM drive.

Step 10. Different customization than the guide:

  • Check the latest Chameleon bootloader
  • Check Legacy Kernel
  • There is no upgrade nor EFF bootloader

 

 

 

10 Comments

Filed under Uncategorized

Diary Nurdin 02/02/2011

Halo Diary sayang,

wahduh mampus deh abang, hari ini George Toisutta menyatakan maju sebagai calon ketua umum PSSI. Puyeng deh. Kalo si Ipin yang maju sih gampang, bang Ical kan musuhan, jadi biarin aja mereka perang sendiri, hehe. Yang lain juga mana berani, wong presiden aja bisa abang kerjain, wkwkwk.

Kalo si George.. wah denger namanya aja dah jiper setengah mati abang. Bikin terkencing-kencing aja tiap kali nyebut namanya. Crrrt… tuuh kaan… ngompol lagi. Bentar ah ganti popok dulu…….. Seharian tadi abang sampe nangis terus di pundaknya mas Nug, makanya mata abang merah pas di foto Kompas.

Gimana ya ngadalin orang ini. Kemarin pas wawancara, capek abang bilang statuta ini statuta itu. Makan tuh statuta, hahaha. Masak harus nggelontorin duit lagi sih buat para pengurus pengprov? Padahal kemaren baru aja semua pengprov abang ajak pelesir ke Qatar. Ah dasar mata duitan mereka semua. Capee deh..

Yang jelas kalau George sampai naik, mampus deh abang. Crrtss.. hiyahhhh.. basah lagi…. ah biarin, terusin aja deh, tanggung. Masalahnya si doi itu semangat tempur banget gitu sih, bisa-bisa dibabat habis semua nih kita-kita. Bang Ical bisa bantu ga ya. Ya udah deh besok coba abang lobi lagi.

Segitu dulu ya say, daa..

Leave a comment

Filed under Diary Nurdin

Diary Seorang Anggota DPR 31/01/2011

Dear diary,

hari ini aku berhasil menuntaskan satu agenda penting, yaitu memanggil KPK ke Komisi III. Well, sebenernya agenda utamanya “sekedar” untuk mengecam mereka sih, atas ulahnya yang menahan paksa 19 rekan anggota dewan (grrrh, kesel ga sih, kita yang milih mereka, eh mereka malah nahan kita),  namun ternyata hasilnya jauh lebih fantastis dari itu. Teman-teman dengan kompaknya akhirnya berhasil mempermalukan para pimpinan KPK dan mengusir Bibit dan Chandra selama-lamanya dari dewan, dan tidak hanya itu, kami juga berhasil membuat mereka terbengong2 selama berjam-jam tanpa bisa berbuat apa-apa.

Hahahahaha… wah kamu harus liat deh tampang-tampang mereka, keciaan banget. Mereka udah kita undang untuk datang, dan datang dengan formasi lengkap, membawa setumpuk dokumen berisi data-data lengkap, dan apa yang terjadi? Mereka cuman bengong nonton action-action kami. Hahahaha… bener-bener puas deh ngerjain mereka. Serangan balik berhasil. Rasaiinn luuuu… makanya jangan macam-macam sama kami, kami ini wakil rakyat yg terhormat. Lha wong kami yang menciptakan hukum kok, kok malah mau dihukum. Nggak logis kan?

Besok mereka akan kita panggil lagi. Mudah-mudahan teman-teman bisa kompak lagi, walopun sama seperti hari ini, bener lho ini nggak ada yang menskenariokan. Semua terjadi begitu saja. Bener-bener hebat. Sekali lagi salut buat teman-teman yang notabene berbeda fraksi tapi untuk urusan kehormatan dewan bisa kompak. Besok nggak tau sih apa yang akan terjadi, tapi aku dah siap action lagi lah.

Huahh, capek.. tapi begitulah, walaupun penat, saya terima ini sebagai tugas. Bahagia rasana, satu tugas selesai.

Tetap berjuang!

Leave a comment

Filed under Diary seorang anggota DPR